Sedih pada Tempatnya

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar
duniawi; bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena

belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada
yang bersedih karena tim sepak bolanya kalah.

Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara. Setiap orang sudah pasti
akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka.

Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80
tahun, misalnya.

Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.

Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian,
mereka mensyukurinya dan merasa cukup ( qana’ah) dengannya.

Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah
al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup melajang hingga wafatnya, tapi
mereka tidak bersedih karena belum menikah.

Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah
sekalipun dalam hidupnya dia meratap karena tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari materi duniawi, melainkan dari
kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT.
Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan
tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita.

Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gejolak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in
yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya.

Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit
yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang
anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab,

”Lebih dahsyat dari itu.” Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu
kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Laki-laki itu pun berkata sambil terheran-heran, ”Lalu, apakah yang lebih
dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab,

”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam ( tahajud ) .”

Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ……

Shalat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih,
tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah.

Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat
mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya karena bekal untuk akhirat belum terisi penuh,
padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. !!!! ^_^

Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih
baik. !!!! ^_^

Wallohu A’lam Bissowab .

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: