Karena Dirimu yang lebih indah

Karena Dirimu yang lebih indah
sumber : eramuslim.com

Wajah Rahma tersaput kabut. Gelisah hatinya tak mampu ia singkirkan. Meski telah
berusaha tak memikirkan sindiran kakak-kakak iparnya, namun tetap saja sindiran
mereka mengganggu perasaannya yang halus.

Belum genap satu tahun Rahma meninggalkan rumah kedua orang tuanya menuju
Jakarta. Bersama gadis ciliknya yang baru berumur dua tahun, Rahma menyusul sang
suami yang telah lebih dahulu ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Enam bulan
sudah mereka hidup terpisah. Setelah sang suami memperoleh pekerjaan tetap
barulah Rahma bersama gadis ciliknya menyusul ke Jakarta.

Di Jakarta, Rahma tinggal bersama keluarga besar sang suami dalam satu atap. Ada
banyak kamar di rumah itu, setiap kamar berisikan kakak-kakak ipar dan
keluarganya. Sisa kamar yang lain disewakan pada orang lain. Rahma dan gadis
ciliknya menempati kamar sang suami. Hanya kamar sempit itu privacy mereka.
Dapur dan kamar mandi digunakan bersama. Tak ada ruang tamu maupun ruang
keluarga. Sungguh berbeda dengan rumah orang tuanya yang luas dan indah, namun
selalu mengajarkan kesederhanaan.

Kakak-kakak sang suami, mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan yang selama ini
di anut Rahma. Konsumtif dan Pragmatis, demikian gaya hidup yang di anut oleh
keluarga besar sang suami, dan sedikit banyak juga mengalir dalam darah sang
suami. Namun, karena ketaqwaan sang suami-lah gaya hidup konsumtif dan pragmatis
itu tak terlalu meluap keluar. Apalagi di saat seperti ini, saat-saat di mana
kondisi perekonomian keluarga mereka masih labil. Gaji sang suami yang belum
lama kerja dan masih berstatus karyawan kontrak hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan susu si kecil. Dengan kondisi begini tak mungkin
mengikuti gaya hidup konsumtif kakak-kakak sang suami.
Kalaupun perekonomian keluarga mereka stabil, Rahma tetap tak berminat menganut
gaya hidup seperti itu.

Perbedaan gaya hidup. Ini-lah yang kemudian menimbulkan ketidak cocokan antara
Rahma dan kakak-kakak iparnya. Hampir setiap hari kakak-kakak iparnya berbelanja
barang baru. Bukan masalah bagi Rahma. Tak sedikitpun rasa iri terlintas di
hatinya bila kakak-kakak ipar memamerkan barang belanjaan mereka. Menjadi
masalah bagi Rahma, bila kakak-kakak iparnya itu mulai menyindir dirinya yang
hampir tak pernah berbelanja.

Seperti hari ini, kakak-kakak ipar menyindirnya karena tak satu pun perhiasan
emas yang menggantung di pergelangan tangan ataupun lehernya. Hanya sebuah
cincin nikah saja yang melingkar di jari tengahnya, itu pun pemberian ibu
mertua. Begitu pula gadis ciliknya. Tak satupun emas menghiasi anggota tubuh
gadis ciliknya itu.

Semula Rahma tak peduli, namun karena tak sekali dua kali kakak-kakak ipar
menyindirnya, mau tak mau, suka tidak suka, Rahma hanya dapat berdiam diri walau
hati teriris-iris.

“Apakah… Perempuan harus memakai perhiasan….?” Tanya Rahma pada sang adik
yang tengah berkunjung dari perantauannya di Yogya. Namun pertanyaan Rahma lebih
mirip sebuah gumaman. Sang adik, yang seketika menangkap kegelisahan dan
kesedihan di hati kakaknya mencoba ber-empati.

“Ada apa, Kak…?” Tanya sang adik penuh perhatian. Rahma menghela nafas berat
sebelum menjawab.

“Kakak-kakak ipar. Sering nyindir kakak dan keponakanmu karena gak pernah pakai
perhiasan….”

Sang adik menatap wajah kakaknya. Ia dan kakak sejak kecil saling menyayangi.
Selisih usia yang terpaut cukup jauh membuatnya merasa puas dengan kedewasaan
dan sifat keibuan sang kakak. Bila ia menangis, kakak akan menghapus air
matanya. Bila ia mengantuk, kakak membuainya dengan dongeng sebelum tidur. Kakak
juga yang melatihnya melafalkan huruf “R” sehingga lidahnya tak lagi cedal bila
membunyikan huruf itu. Dan ketika ia memasuki usia baligh, kakak lah yang
mengajarkan dirinya menutup aurat. Kini, sang kakak terlihat kuyu di hadapannya.
Betapa inginnya ia menghapus kegalauan hati sang kakak.

“Kenapa harus pakai perhiasan, tanpa perhiasan pun kakak adalah perhiasan yang
paling indah….”

Rahma terpana mendengar ucapan sang adik. Kata-kata sang adik yang baru saja
didengarnya bagaikan embun yang menyejukkan jiwanya. Ingin sekali lagi ia
mendengarnya.

“A..Apa, Dik?”, Tanya Rahma. Sang adik menghadapkan tubuhnya pada Rahma untuk
memperjelas ucapannya.

“Wanita Sholehah itu kan sebaik-baiknya perhiasan, Kak… jadi kakak gak perlu
sedih karena gak pakai perhiasan. Perhiasan itu ada dalam diri kakak. Lebih
indah malah…”

Mendengar perkataan sang adik, wajah Rahma berubah cerah. Rasa percaya dirinya
kembali mengembang. Sang adik telah menghempaskannya pada sebuah kesadaran.
Untuk apa sibuk memikirkan dan mengumpulkan perhiasan dunia, bukankah lebih baik
sibuk memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah agar menjadi wanita
sholehah? Bukankah wanita sholehah adalah perhiasan yang lebih indah dari
perhiasan manapun di dunia? Tak perlu emas dan permata untuk percaya diri. Tak
butuh berlian untuk tampil mempesona. Kesholehan telah mencakup itu semua.

Rahma tersenyum manis. Senyuman termanis yang pernah sang adik lihat.

%d blogger menyukai ini: