Masa Hidup Di Dunia Sesungguhnya Masa Yang Sangat Singkat

Masa hidup rata-rata manusia 60 – 80 tahun terlihat sangat panjang bagi yang
tidak memahami akhirat. Padahal di akhirat hidup adalah abadi, entah itu di
surga atau di neraka, artinya tidak sekedar 500 atau seribu tahun atau sejuta
tahun, tapi lebih dari itu yang berarti bermilyar-milyar tahun atau penafsiran
umumnya dikatakan sebagai abadi (kekal). Bahkan sebelum Allah SWT menentukan
kita masuk surga atau neraka, kitapun masih harus mengikuti ‘masa menunggu’ di
alam kubur selama ratusan hingga ribuan tahun; tergantung iman, amal dan ibadah
kita di dunia. Kemudian masih ada ribuan tahun lagi ‘masa menunggu’ di Padang
Mahsyar, ratusan hingga ribuan tahun lagi ‘masa menunggu’ di proses pengadilan
akhirat. Dan seterusnya, sehingga 60 – 80 tahun di dunia sesungguhnya adalah
waktu yang sangat singkat. Rasulullah SAW menggambarkan masa kehidupan di dunia
ibarat orang yang sedang singgah sejenak dalam suatu perjalanan yang sangat
jauh.

“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat
kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Al-Bukhari no. 6412).

Hadits yang mulia di atas memberikan beberapa faedah kepada kita:
1. Sepantasnya bagi kita memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untuk taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengerjakan
kebaikan-kebaikan sebelum hilangnya dua nikmat itu. Karena, waktu luang akan
diikuti dengan kesibukan, dan masa sehat akan disusul dengan sakit.
2. Islam sangat memperhatikan dan menjaga waktu. Karena waktu adalah kehidupan,
sebagaimana Islam memperhatikan kesehatan badan di mana akan membantu
sempurnanya agama seseorang.
3. Dunia adalah ladang akhirat. Maka sepantasnya seorang hamba membekali dirinya
dengan takwa dan menggunakan kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala
untuk taat kepada-Nya.
4. Mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan menggunakan nikmat
tersebut untuk taat kepada-Nya. (Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhis Shalihin,
1/180-181) “Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian
bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat itu kepada kalian. Dan jika kalian
mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Al-Qur’an,
surat Ibrahim, ayat 7).

Kenyataan yang ada, banyak waktu kita berlalu sia-sia tanpa kita manfaatkan dan
kita pun tidak bisa memberikan manfaat kepada salah seorang dari hamba-hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak merasakan penyesalan akan hal ini kecuali
bila ajal telah datang. Ketika itu seorang insan pun berangan-angan agar ia
diberi kesempatan kembali ke dunia walau sedetik untuk beramal kebaikan, akan
tetapi hal itu tidak akan didapatkannya.

Terkadang nikmat ini luput sebelum datangnya kematian pada seseorang, dengan
sakit yang menimpanya hingga ia lemah untuk menunaikan apa yang Allah Subhanahu
wa Ta’ala wajibkan terhadapnya, ia merasakan dadanya sempit tidak lapang dan ia
merasa letih. Terkadang datang kesibukan pada dirinya dengan mencari nafkah
untuk dirinya sendiri dan keluarganya sehingga ia terluputkan dari menunaikan
banyak dari amal ketaatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Hingga ketika datang kematian menjemput salah seorang dari mereka, ia pun
berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bisa mengerjakan
amal shalih yang dulunya aku tinggalkan’.” (Al-Mukminun: 99-100)
“Sebelum datang kematian menjemput salah seorang dari kalian, hingga ia berkata:
‘Wahai Rabbku, seandainya Engkau menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat
sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’ Dan
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah
datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(Al-Munafiqun: 10-11)

Karena itulah sepantasnya bagi insan yang berakal untuk memanfaatkan waktu sehat
dan waktu luangnya dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
sesuai dengan kemampuannya. Jika ia dapat membaca Al Qur’an, maka hendaklah ia
memperbanyak membacanya. Bila ia tidak pandai membaca Al Qur’an maka ia
memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ia tidak dapat
melakukan hal itu, maka ia melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Atau mencurahkan
apa yang ia mampu berupa bantuan dan amal kebaikan kepada saudara-saudaranya.
Semua ini adalah kebaikan yang banyak namun luput dari kita dengan sia-sia.”
(Syarah Riyadhis Shalihin, 1/451-452).

Sedemikian pentingnya mengisi waktu dengan baik sehingga Al-Quran memiliki satu
surat khusus mengenai waktu (surat Al Ashr). “Demi masa. Sesungguhnya manusia
itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. Rasulullah SAW menggambarkan
betapa pentingnya mengisi waktu dengan kebaikan dengan menganjurkan kita
bersedekah walau dengan sebiji kurma sekalipun, atau menanam pohon walaupun
besok kiamat tiba.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Sumber : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

%d blogger menyukai ini: