Puasa……, !!!! ^_^

Bismillahirrohmaanirrohiim

PUASA

Oleh: Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghozali (Imam Al Ghozali)

Allah SWT berfirman dalam hadist Qudsi, “Setiap kebaikan itu dilipatgandakan
pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuhratus kali lipat, kecuali puasa. Maka,
sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala.”
(H.r. Muttafaq ‘Alaih)
Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap sesuatu itu mempunyai pintu, dan pintu ibadat itu adalah puasa.” (Al
Hadist).
Tingginya nilai puasa di mata Allah dan Rasul-Nya, berpulang dua hal:
Pertama, puasa itu mengandung ajaran pencegahan diri yang merupakan amal yang
sangat rahasia, yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Tidak seperti sholat,
zakat, dan lain-lain.
Kedua, puasa merupakan upaya efektif untuk menundukkan setan sebagai musuh
Allah. Salah satu pintu efektif yang sering diterobos setan untuk menggoda
manusia adalah melalui pintu syahwat dan nafsu. Rasa lapar sangat efektif untuk
mematahkan seluruh syahwat dan nafsu yang menjadi perangkat setan. Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya setan berjalan pada tubuh manusia mengikuti aliran darah. Maka
himpitlah ia dengan rasa lapar.” (Al Hadist).
Dan inilah misteri sabda Rasulullah SAW:
“Apabila Ramadhan tiba, semua pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup,
sedangkan setan-setan dibelenggu. Lalu seorang malaikat berseru, “Wahai pencari
kebaikan, teruskanlah! Dan wahai pencari kejahatan, hentikanlah!” (HR Ahmad dan
Nasa’I).
Secara lahiriyah, kriteria puasa dikategorikan menjadi tiga tingkatan. Begitu
juga dengan batiniah. Derajat atau tingkat lahiriyah puasa antara lain: Tingkat
minimal, yaitu puasa pada bulan Ramadhan saja. Yang tertinggi adalah puasa Nabi
Daud AS, yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Menurut suatu riwayat, puasa
jenis ini (Daud) seperti halnya berpuasa sepanjang tahun dan karenanya ia
menjadi puasa yang paling utama. Rahasianya, orang yang berpuasa sepanjang tahun
dan tidak pernah berbuka, maka puasa baginya sudah menjadi kebiasaan. Dan bila
sudah menjadi kebiasaan, dia pun tidak merasakan adanya beban hawa nafsunya.,
kesucian dalam hatinya sudah dianggap biasa, syahwatnya biasa terkekang.
Realita menunjukkan, bahwa jiwa itu menjadi terkesan dan terpengaruh sesuatu
yang temporer daripada aktivitas yang dilaksanakan secara rutin dan monoton.
Para dokter mencegah kita meminum obat terus-menerus.
Para dokter berkata, “Siapa yang terbiasa secara terus-menerus meminum obat,
maka obat itu tidak ada gunanya ketika dia jatuh sakit. Sebab, tubuhnya sudah
tercampuri oleh obat tersebut, sehingga tidak ada pengaruhnya.”
Ketahuilah, bahwa obat hati dengan obat jasmani ada kemiripan. Dan inilah
rahasia sabda Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Abdullah SAW ketika ditanya
oleh Abdullah bin Umar RA tentang puasa yang paling utama. Beliau menjawab,
“Puasalah sehari dan berbukalah sehari!”
Abdullah bertanya, “Saya menginginkan yang lebih utama dari itu.”
Nabi SAW menjawab, “Tidak ada yang lebih utama dari itu.”
Begitu pula saat beliau ditanya tentang orang yang berpuasa sepanjang tahun,
maka beliau menjawab, “Itu tidak berpuasa dan tidak pula berbuka.”
Demikian juga Aisyah RA pernah berkata kepada orang yang membaca Al Quran
terlalu cepat, “Sesungguhnya orang itu tidak membaca Al Quran dan juga tidak
diam.”
Sedangkan tingkat pertengahan (mutawassith) adalah berpuasa sepertiga tahun.
Ketika Anda berpuasa pada hari Senin dan Kamis ditambah sebulan Ramadhan berati
Anda telah berpuasa sepertiga tahun. Tidak layak bila Anda mengurangi kadar
tersebut atas puasa Anda.
Adapun derajat dan tingkatan dari segi rahasianya, terbagi menjadi tiga
tingkatan:
Pertama: Puasa umum (awam), yaitu Anda berpuasa dengan sekedar menahan diri dari
berbuka, namun tidak mampu menahan tubuhnya dari perbuatan makruh.
Kedua: Puasa khusus, yaitu Anda puasa dengan mencegah pendengaran, penglihatan,
lisan, tangan, kaki, dan anggota badan yang lain dari perbuatan dosa, setelah
mencegah diri dari perbuatan yang membatalkan puasa.
Ketiga: Puasa khususul khusus, yaitu Anda berpuasa dengan menjaga hati agar
tidak dicampuri urusan pikiran dan was-was, semata dzikir kepada Allah SWT.
Inilah puasa yang paripurna.
Dan kunci kesempurnaan puasa adalah berbuka dengan makanan halal, bukan makanan
yang syubhat dan tidak berlebihan di dalam menikmatinya ketika berbuka. Sebab,
dengan terlalu banyak dan berlebihan ketika berbuka – misalnya sampai lambung
terasa sesak – adalah perbuatan yang bisa membatalkan rahasia puasa, lantaran
dapat menimbulkan rasa malas beribadah seperti tahajud, dan tidak bangun ketika
waktunya sholat subuh.
Semua itu membawa kerugian besar yang menyebabkan hilangnya faedah puasa.
Wallahu ‘alam bish showab
Wassalamualaikum Wr Wb
Maraji (source): Imam Al Ghozali; Kitabul Arba’in fi Ushuliddin

%d blogger menyukai ini: