Ada apa dengan ayat-ayat cinta?????????

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Akhir-akhir ini flm yang lagi fenomenal alias lagi booming di negri kita ini, aku rasa ayat-ayat cinta. Novelnya yang menyedot banyak pembaca dan sangat menyentuh jiwa, wah q sangat shalut dengan pengarang novel ini “Habiburrahman El Shirazy”. sedangkan untuk flm nya di sutradarai oleh “Setiawan Hanung Bramantyo”

Habiburrahman El Shirazy

Habiburrahman el-Shirazy, lahir di Semarang pada hari Kamis, 30 September 1976. Memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak dibawah asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Setiawan Hanung Bramantyo

(lahir di Yogyakarta pada 1 Oktober 1975) adalah seorang sutradara asal Indonesia. Dalam Festival Film Indonesia 2005, ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Brownies (untuk Piala Citra – film layar lebar). Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untuk film cerita lepasnya, Sayekti dan Hanafi, namun yang kemudian mendapatkan penghargaan adalah Guntur Soehardjanto. Pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali terpilih sebagai Sutradara Terbaik melalui film Get Married. Bramantyo pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia namun ia tidak menyelesaikannya. Setelah itu ia pindah mempelajari dunia film di Jurusan Film Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

Untuk karya sebuah novel yang di terbitkan pertama kali pada tahun 2004, merupakan novel yang di sukai banyak orang, yups sebuah karya novel yang bagus menurutku, mungkin banyak orang yang berpikir sama. Tapi setelah kemunculan flmnya, hmmmmm yang banyak aku rasakan sih, banyak yang mecela flm ayat-ayat cinta.

kenapa ini bisa terjadi???? menurutku sih, perbadean dari kedua orang tersebut, sentuhan pada karya masing-masing. novel yang digarab oleh Habiburrahman El Shirazy, yang merupaka orang yang sudah lama bergelut dalam dunia Agama islam, jadi beliau tau bagaimana menulis sebuah novel islamia. dan jika di lihat dengan flm ayat-ayat cinta yang merupakan garapan dari sutradara Setiawan Hanung Bramantyo, yang latar belakang pendidikannya adalah seseorang yang bergelut di dunia film.

Yang menjadi masalah, mungkin cara pandang kita yang berbeda, khususnya umat islam tentang hukum dan manfaat film untuk dakwa. namun terkadang ‘kesalahan’ memang terletak dari si pembuat film.

perdebatan mungkin terjadi antara orang yang suka dengan flm dan yang ga suka flm. Kalangan orang (suka film) dari umat Islam memandang film ini bagus dan fenomenal dan layak dijadikan film dakwah yang ideal. Sebaliknya, kalangan bukan orang suka flm yang sejak awal memang tidak suka film, tetap saja mereka tidak suka. Atau hanya orang-orang yang suka mencela karya orang lain, tanpa bisa memberikan solusi.

Banyak orang berpendapat, flm ini buruk dan lebih buruk dari pada flm porno, ada juga yang berpendapat flm ini bagus, dan dapat merubah diri mereka menjadi baik. aku rasa kembali dari diri kita masing-masing, bagai mana kita menerima sesautu itu buruk atau tidak terhadap diri kita, jangan sampai saling menyalahkan dan menuding siapa yang benar dan yang salah, karena ga akan ada habisnya. salah-salah masalah tambah lebar.

ada juga orang yang belum apa-apa sudah bikin fatwa flm ini membawa sesat dan haram. tanpa pernah melihat filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah. Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati. aku juga tidak menyalahkan itu semua.

Sebaliknya, buat umat Islam yang pada dasarnya sudah suka film, kecenderungan mereka selalu memandang positif bila ada film yang sedikit saja agak tidak terlalu hedonis. Bahkan meski sama sekali bukan film dakwah atau agama. Dan hujjah mereka pun sudah sering kita dengar. Misalnya, mereka mengatakan bahwa yang perlu mendapat siraman dakwah itu bukan hanya jamaah masjid saja, tapi mereka yang tiap hari kerjanya nonton film, kalau dibuatkan film yang lain dari biasanya, akan tetap bermanfaat bagi mereka. Setidaknya film yang agak kental mengangkat masalah agama seperti itu, untuk kapasitas dunia film yang selama ini melulu hedonis dan materialis, bahkan cenderung pornografis, makaharus ditanggapi positif, bukan malah dicela atau dimaki. Juga jangan dibilang lebih berbahaya dari film porno. Buat mereka, cara pandang seperti ini adalah cara pandang pesimistis, bahkan cenderung nihilis. Tidak berpihak kepada realita bahwa sebagian besar masyarakat itu sufi, alias suka (nonton) film.

Mengharamkan film sama saja mengharamkan televisi. Tapi mereka yang mengharamkan televisi tetap saja tidak mendirikan sendiri sebuah stasiun televisi tandingan yang ideal sesuai dengan selera mereka. Jadi masih terbatas baru bisa mengharamkan, tanpa bisa memberikan solusi.

Kekurangan Pembuat Film

Pembuatan film bertema dakwah memang agak unik dan bikin pusing, apalagi kalau film itu dikerjakan oleh mereka yang kurang banyak berkecimpung di dunia dakwah.

Boleh jadi dakwahnya malah menjadi sekedar pemanis, atau orang bilang ‘manis-manis jambu’. Atau yang paling apes, dakwahnya malah kalah dengan masalah lainnya, seperti masalah cinta dan seterusnya.

Penentuan tokohnya juga kurang pas dengan kehidupan sehari-hari mreka, dan itu mungkin menjadi ketidak setujuan.

Ayat ayat Cinta Tidak Islami?

Orang yang pernah baca novel karya Habiburrahman ini, lalu nonton filmnya, akan berkomentar bahwa film itu tidak Islami. Lho kok tidak Islami?

Wah, jangan tanya saya, tapi tanya saja kepada yang bilang ungkapan itu. Dan yang bilang begitu bukan siapa-siapa, tapi sutradaranya sendiri, si Hanung. Jadi sejak awal si sutradara sudah mengaku bahwa filmnya ini tidak Islami.

Jadi itu saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah penilaian, tanpa harus diskusi panjang-panjang. Lha wong yang bikin film itu saja sudah bilang bahwa filmnya tidak Islami. Masak kita mau paksa bilang bahwa itu adalah film Islami?

Begitu banyak memang reduksi dari novel yang sarat isitlah syariah, ketika jadi film malah hilang begitu saja, dibuang oleh pembuat film. Sehingga begitu banyak pesan agama malah raib, berganti dengan adegan konyol, aneh dan memang tidak Islami. Dan itu sejak awal sudah diakui oleh si pembuat film.

Kami tidak tahu apa reaksi akhinal fadhil Habiburrahman tentang film ini. Silahkan tanya beliau.Tapi memang sangat beda antara apa yang ditulis oleh seorang lulusan Al-Azhar dalam novelnya dengan hasil besutan orang film yang bukan lulusan fakultas syariah. Nuansa dan touch-nya beda banget.

Wallahu a’lam bishsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

kutipan :

wikipedia, eramuslim, pendapatku sendiri

%d blogger menyukai ini: