Ruqiyah Atau Jampi

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Dalam keadaan lelah dan lapar, rombongan sahabat Nabi Muhammad SAW singgah
di suatu desa. Tak ada satu penduduk pun yang sudi menjamu mereka. Kebetulan
ketika rombongan beranjak pergi meninggalkan desa yang bakhil itu, terjadi
peristiwa: kepala desanya disengat kalajengking berbahaya.

Segala upaya sudah dilakukan. Segala ramuan yang biasa mereka gunakan
mengobati sengatan binatang berbisa tidak mampu menyembuhkannya.

Lalu, ada seorang yang usul agar mencari rombongan yang barusan saja lewat
desa mereka. Siapa tahu di antara mereka ada yang bisa mengobati. Usul
tersebut diterima dan dikirimlah utusan menemui rombongan. Singkat cerita,
utusan bertemu rombongan dan menceritakan apa yang menimpa kepala desa
mereka.

“Apakah di antara kalian ada yang bisa melakukan ruqyah, jampi, untuk
mengobati kepala desa kami?” tanya mereka. Seorang diantara rombongan pun
langsung menjawab: “Aku bisa menjampi.” Tapi, aku tidak akan menjampi dan
mengobati kepala desa kalian, kecuali kalian memberi kami kambing.”Akhirnya,
disepakati mereka akan memberi beberapa ekor kambing sebagai imbalan.

Demikianlah, sahabat yang mengaku bisa menjampi tersebut dibawa ke tempat
kepala desa yang berbaring tidak berdaya. Sahabat itu membaca surah Fatihah
dan meniup-semburi bagian tubuh si kepala desa yang tersengat. Ajaib,
ternyata sembuh seketika. Orang-orang desa gembira, karena kepala desa
mereka sembuh. Rombongan juga gembira, karena mendapat kambing.

Setelah rombongan sampai Madinah dan melapor kepada Rasulullah SAW, apa
komentar beliau? Beliau bersabda kepada sahabat yang menjampi si kepala
desa, “Dari mana kamu tahu bahwa Fatihah bisa untuk jampi?” Dari Hadits
sahih di atas, sementara ulama menyimpulkan bahwa ruqyah atau jampi dan
meminta upah untuk itu diperkenankan oleh agama. Meskipun, ada juga yang
tetap tidak memperkenankan pengobatan menggunakan ruqyah. Sebagian yang
lain, berpendapat bahwa ruqyah boleh untuk mengobati sakit akibat sengatan
dan semisalnya dan tidak boleh untuk yang lain.

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengenai hubungan bacaan ruqyah dengan
penyakit. Bagaimana bacaan dan tiupan bisa menyembuhkan luka? Saya teringat
cerita saudara saya. Saudara saya yang insinyur ini pernah menegur setengah
memarahi penjual rokok tetangganya yang suka menaruh botol air di depan para
kyai yang sedang melakukan istighotsah, kemudian air dibawa pulang untuk
obat. “Apa hubungannya?” katanya kepada tetangganya itu.

“Apa doa-doa itu bisa meresap masuk ke dalam air botol sampeyan ?”

Sampai suatu ketika, saudara saya itu menemukan dan membaca bukunya Dr.
Masaru Emoto tentang keajaiban air. “Ternyata,” kata saudara saya, “menurut
penelitian Dr. Masaru, air bisa menerima pengaruh ucapan, bacaan maupun
tulisan. Sekarang, galon tempat air minum kami di rumah kami tempeli Asmaul
Husna.”

Syahdan, Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dalam Hadits Abdullah Ibn
Mas’ud, pernah saat sujud, jarinya disengat kalajengking. Setelah salat,
beliau meminta air dan garam, lalu memasukkan jari yang tersengat tersebut
ke dalamnya dan membaca “Qul Huwallaahu Ahad” dan “Mu’awwidzatain” (“Qul
‘auudzu biRabbil falaq” dan “Qul ‘audzu biRabbinnaas”)

Di dalam Hadits Ibn Mas’ud ini, ruqyah, jampi, atau suwuk tampak hanya
sebagai ‘pelengkap’. Atau katakanlah, pengobatan gabungan. Gabungan antara
pengobatan medis dan doa. Boleh jadi, inilah yang paling membuat pasien
mantap dan pada gilirannya membantu mempercepat penyembuhan.

Berkenaan dengan itu, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Utsman bin Abil
‘Ash yang pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya sejak masuk Islam
kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW memberi saran, “Letakkan tanganmu
di atas bagian yang sakit pada tubuhmu dan bacalah Bismillah tiga kali dan
baca tujuh kali, A’uudzu bi’izzatiLlahi waqudratihi min syarri maa ajidu wa
uhaadzir.”

Demikianlah, pengobatan, baik secara medis maupun jampi, hanyalah sekedar
upaya dan ikhtiar. Pada akhirnya dan hakikatnya Allah sendirilah yang
menyembuhkan. Maka, sebagaimana upaya dan ikhtiar untuk yang lain, kita
tidak boleh lupa memohon pertolongan-Nya. []

%d blogger menyukai ini: